05/03/20

Wajah Indonesia dalam Cerpen Seppuku


Kamis (5/3/20), segenap mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengadakan diskusi bersama dalam rangka menyongsong Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2020 (Peksiminas 2020). Peksiminas merupakan seleksi yang ditujukan kepada mahasiswa di seluruh Indonesia setiap dua tahun sekali. Peksiminas bertujuan untuk menggali dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengapresiasi seni, baik seni sastra, seni musik, seni pertunjukan, maupun seni rupa. Seleksi terlebih dahulu dilakukan di tingkat universitas. Setelah itu, mahasiswa yang lolos seleksi akan mewakili kampus dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) di tingkat daerah atau provinsi, baru kemudian akan dikirim ke tingkat nasional setelah dinyatakan lolos seleksi Peksimida.


Acara diskusi bersama yang diselenggarakan oleh Komunitas Teater Akar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Trunojoyo Madura (PBSI UTM) bersama dengan Komunitas Kepenulisan Karsa PBSI UTM, menghadirkan pemantik yang merupakan salah satu dosen di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UTM. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa UTM dan dua narasumber, yakni Fiyan Ilman Faqih selaku pembina Komunitas Teater Akar dan Sri Rahayu selaku pemantik dalam acara diskusi kali ini. Sri Rahayu, S.S.,M.Hum. juga merupakan seseorang yang memiliki pengalaman dalam seleksi Peksiminas cabang lomba penulisan cerpen. Ia pernah menduduki peringkat 1 lima karya sastra terbaik pada Seleksi Daerah Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (Selekda BPSMI). Kemudian pada tahun 2010, perempuan kelahiran Kediri ini menjadi juara harapan 1 dalam Peksiminas ke-X di Pontianak dengan cerpen yang berjudul “Seppuku.”

“Seppuku merupakan cerpen yang saya tulis pada saat mengikuti seleksi Peksiminas ke-X di Pontianak. Saat itu saya menjadi juara harapan satu,” ungkap Sri Rahayu.

Seppuku merupakan cerpen yang mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Yamaguchi Hattori, seorang pria asal Jepang yang datang ke Indonesia untuk keperluan disertasinya. Tokoh Hattori digambarkan pertama kali datang ke pulau Jawa pada awal tahun 70-an. Namun di akhir cerita , ia mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri ala Jepang yang disebut dengan Seppuku atau Hara-Kiri. Seppuku dilakukan oleh seorang ksatria yang kalah dalam perang. Daripada harus kalah dan ditangkap musuh, mengakhiri hidup dengan cara Seppuku akan jauh lebih terhormat. Alasan Hattori mengakhiri hidupnya ialah karena ia telah melakukan perbuatan dosa dan memalukan, yakni korupsi.

Cerpen Seppuku ini mampu menghadirkan wajah Indonesia yang masih berkutat dengan persoalan korupsi yang tidak ada habisnya. Namun, kisah tragis yang dialami Hattori dalam cerpen ini tidak pernah terjadi di Indonesia. Warga Negara Indonesia yang terlibat kasus korupsi masih bebas berkeliaran, dan hukuman yang diberikan juga bukan hukuman mati. Sementara, dalam cerpen ini Hattori yang merasa menyesal akan dosanya tersebut lebih memilih hukumannya sendiri, yaitu mengakhiri hidupnya secara terhormat daripada harus ditangkap polisi.

“Ritual bunuh diri ini mirip dengan pepatah masyarakat Madura, yaitu Ango'an apote tolang etembang apote matah, artinya ialah lebih baik putih tulang, daripada putih mata. Maksud dari pepatah ini yaitu daripada menanggung beban malu, akan lebih baik mati saja. Ini menggambarkan harga diri tinggi yang dimiliki masyarakat Madura. Dari sinilah seperti terdapat kemiripan antara ritual Seppuku di Jepang dengan pepatah masyarakat Madura ,” jelas Fiyan salah satu dosen PBSI UTM yang berasal dari Madura.

Namun, meskipun begitu ritual seperti itu tidak dapat dipraktikkan di Indonesia. Sri mengungkapkan bahwa ia hanya iseng ketika menulis cerpen ini. Tidak ada tujuan khusus selain untuk mengikuti seleksi Peksiminas yang kebe tulan salah satu temanya adalah tentang politik. Sehingga, dalam cerpen ini yang perlu disorot ialah terkait masalah korupsi. Cerpen ini mampu menjadi sebuah kritikan sosial. Selain itu, cerpen ini pula yang mampu mengantarkan Sri menjadi juara harapan 1 dalam seleksi Peksminas 2010.

“Saya sangat berterima kasih kepada semua mahasiswa yang sudah datang, saya merasa terharu dan tidak menduga kalau yang datang akan sebanyak ini. Semoga peserta yang akan mengikuti seleksi Peksiminas 2020 penulisan cerpen bisa menjadi juara dan sukses, kuncinya sering-seringlah membaca dan pandai-pandailah membaca keadaan yang sedang hangat diperbincangkan saat ini, baru kemudian mulailah menulis,” tutur Sri.

Annisa’ Fitria Zulaikha
Mahasiswa Program Study Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Trunojoyo Madura
0857 0857 5497 (WA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar